Terkait Aksi Protes UU Cipta Kerja, Gubernur Gorontalo Mempersilahkan Demo

24
Gubernur Gorontalo Rusli Habibie saat melakukan dialog interaktif di RRI Gorontalo dengan tema Menjawab Keresahan Pekerja dan Kondisi Terkini Gorontalo, Rabu (14/10/2020). (Foto: Tilongkabila.news.com)

GORONTALO, MEDGO.ID– Menyoal aksi protes Mahasiswa dan masyarakat mengenai penolakan UU Cipta Kerja, masyarakat, buruh maupun mahasiswa di Gorontalo diperbolehkan menyampaikan aspirasi dengan menggelar demo.

Namun aksi demo tersebut jangan anarkis. Apalagi sampai merusak atau membakar fasilitas umum dan saling lempar batu. Hal tersebut di sampaikan langsung oleh Gubernur Gorontalo, Rusli Habibie.

”Kalau adik adik mahasiswa dan buruh melakukan aksi anarkis dengan merusak fasilitas umum saat demo, siapa yang rugi? Saya juga ini pernah menjadi mahasiswa, pernah ikuti-ikut demo seperti ini, tapi tidak anarkis. Coba mari kita musyawarah, beberapa waktu lalu sudah saya undang teman-teman BEM se Gorontalo, kita akan kaji poin per poin, pasal per pasal dari undang-undang ini,” kata Gubernur Gorontalo Rusli Habibie pada dialog interaktif di RRI Gorontalo, (yang dilansir dari Tilongkabila.News.com, Rabu 14/10/2020)

Rusli menyampaikan lebih lanjut pihaknya mengajak berbagai pihak terlebih kalangan mahasiswa, untuk melakukan kajian tentang isi undang undang cipta kerja dengan “kepala dingin”. Kepala dingin yang dimaksud Rusli adalah dengan tidak adanya tindakan anarkis saat menyampaikan aksi protes terhadap Omnibus Law UU Cipta Kerja tersebut.

Pada kesempatan itu Gubernur Rusli mengatakan, kalau dirinya belum

Menurut Rusli, terkait UU Cipta Kerja, apa yang harus ditolak. Pasalnya, dia bersama Forkopimda di Gorontalo hingga hingga hari ini belum menerima secara resmi isi dari draft UU Cipta Karya tersebut.

” Jika diminta langsung untuk menolak UU Cipta Kerja ini, belum bisa dilakukan. Karena saya sendiri belum tahu isinya UU Cipta Kerja itu sendiri. Jadi kalau banyak yang bilang tolong pak gub, tolong keluarkan surat menolak. Apa yang harus ditolak? Kita belum lihat isinya UU Cipta Kerja nya,” ujar Rusli.

Ia mengajak seluruh stake holder terkait untuk mengkaji bersama jika sudah ada drafnya, dan sama-sama membawanya ke pusat.

Rusli menambahkan, terjadinya aksi-aksi anarkis ini tidak lain juga disebabkan oleh adanya isu-isu hoaks yang berkembang di masyarakat terkait dengan UU Cipta Kerja ini. Sehingga ia mengajak mahasiswa sebagai agen perubahan, agar mampu memilah dan memahami informasi yang berkembang di media sosial, sehingga aspirasi yang disampaikan terfokus pada pokok persoalan.**

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here