Ragam  

Tempat Pelarian Konglomerat Rusia Menghindari Sanksi Perang “Surga Dubai”

MEDGO.ID – Dilansir dari okezone.com, dampak sanksi Barat mempengaruhi tujuan perjalanan luar negeri konglomerat Rusia yang memilih Dubai sebagai ‘surga’ pelesiran.

Para pemimpin bisnis mengatakan kepada BBC, miliarder dan pengusaha Rusia telah tiba di Uni Emirat Arab (UEA) dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Diperkirakan ratusan ribu orang telah meninggalkan Rusia selama dua bulan terakhir – meskipun angka pastinya tidak tersedia.

Seorang ekonom Rusia mengatakan sebanyak 200.000 orang Rusia telah pergi dalam 10 hari pertama setelah perang dimulai.

Virtuzone, yang membantu perusahaan untuk mendirikan operasi di Dubai, telah melihat lonjakan besar klien Rusia.

“Kami menerima lima kali lebih banyak pertanyaan dari Rusia sejak perang dimulai,” kata kepala eksekutif George Hojeige.

“Mereka khawatir tentang krisis ekonomi yang akan datang. Itu sebabnya mereka pindah ke sini untuk mengamankan kekayaan mereka,” tambahnya.

Banyak perusahaan multinasional dan perusahaan rintisan Rusia juga merelokasi karyawan mereka ke UEA.

BACA JUGA  Rapat Internal Pembahasan Ranperda Di Skors, Ini Penjelasan DPRD Kota Gorontalo

Fuad Fatullaev, warga negara Rusia, adalah salah satu pendiri WeWay – sebuah perusahaan teknologi blockchain yang memiliki kantor di Rusia dan Ukraina. Setelah perang pecah, dia dan rekan-rekannya memindahkan ratusan karyawan ke Dubai.

“Perang memiliki dampak besar pada operasi kami. Kami tidak dapat melanjutkan [seperti sebelumnya] karena kami harus memindahkan ratusan orang ke luar Ukraina dan Rusia,” terangnya.

Dia menambahkan bahwa mereka memilih untuk memindahkan karyawan mereka ke UEA karena menawarkan lingkungan ekonomi dan politik yang aman untuk menjalankan bisnis.

Dia mengatakan bisnis Rusia pindah karena mereka merasa sangat sulit untuk beroperasi karena sanksi. Dia mengatakan tantangannya bahkan lebih akut bagi perusahaan yang berurusan dengan klien dan merek internasional, karena sebagian besar perusahaan barat telah memutuskan hubungan dengan perusahaan yang berbasis di Rusia.

Perusahaan global seperti Goldman Sachs, JP Morgan dan Google yang telah menutup kantor di Rusia, juga merelokasi beberapa karyawan mereka ke Dubai.

BACA JUGA  Peringatan Hari Ibu, Euforia Angka Kekerasan Perempuan Di Kota Gorontalo

“Pasti ada brain drain yang terjadi. Banyak orang pergi karena ada banyak pembatasan bisnis saat ini,” lanjutnya.

Bank sentral Rusia dilarang memanfaatkan miliaran cadangan devisa yang disimpan di luar negeri di bank asing. Beberapa bank Rusia telah dihapus dari sistem pesan keuangan Swift.

Untuk melindungi cadangannya, pemerintah Rusia telah memberlakukan pembatasan modal dan melarang warga keluar negari dengan membawa lebih dari USD10.000 (Rp145 juta) dalam mata uang asing.

Merasa sulit untuk mentransfer uang tunai, banyak pembeli Rusia melakukan pembayaran dalam mata uang kripto. Beberapa pembeli memiliki perantara yang akan menerima pembayaran dalam kripto dan kemudian memberikan uang tunai kepada penjual atas nama pembeli.

Peningkatan investasi Rusia terjadi hanya beberapa bulan setelah UEA ditempatkan pada “daftar abu-abu” oleh Financial Action Task Force (FATF), pengawas kejahatan keuangan global.

BACA JUGA  Melaksanakan Reses, DPRD Kota Gorontalo Tinjau Pembangunan Proyek Sekolah Dan Jalan

Ini berarti negara tersebut menghadapi peningkatan pemantauan terhadap upayanya untuk melawan pencucian uang dan pendanaan teroris. Pemerintah UEA telah mengklaim telah mengambil langkah-langkah signifikan untuk mengatur investasi masuk, dan telah menyatakan bahwa pihaknya tetap berkomitmen untuk bekerja sama dengan FATF di bidang-bidang untuk perbaikan.

Negara-negara Teluk termasuk UEA dan Arab Saudi telah menolak seruan dari pemerintah barat untuk menjatuhkan sanksi terhadap Rusia.

UEA adalah satu dari hanya tiga negara, bersama dengan China dan India, yang abstain dalam pemungutan suara Dewan Keamanan PBB pada Februari lalu untuk mengutuk invasi Rusia ke Ukraina. Negara itu juga abstain dalam pemungutan suara Majelis Umum pada 7 April untuk menangguhkan Rusia dari Dewan Hak Asasi Manusia PBB.

Negara ini juga memberikan visa kepada orang Rusia yang tidak terkena sanksi sementara banyak negara Barat telah membatasi mereka. (*).