Pengakuan Gadis Cantik Yang Sering Di Aniaya Oleh Mantan Kekasihnya Yang Merupakan Oknum Polisi

25
Ilustrasi Penganiayaan

KABGOR– Seorang gadis cantik Siti Hardianti (28), warga Kelurahan Molosipat U, Kecamatan Sipatana, Kota Gorontalo, mengaku sering dianiaya oleh mantan kekasihnya yaitu Bripka AS (32), seorang oknum polisi di Polsek Limboto.

Peristiwa penganiayaan itu terjadi pertama kali pada Selasa (25/2/2020) sekitar pukul 15.00 Wita di rumah teman pelaku di Kelurahan Hunggaluwa, Limboto. Korban mengaku dianiaya karena cemburu.

“Dia (Bripka AS) cemburu, lantaran itu saya dianiaya dengan cara ditendang. Waktu itu dia dalam keadaan pengaruh alkohol,” kata korban (yang dilansir dari Kronologi.id, pada Kamis, 01 September 2020).

Penganiayaan kedua, terjadi pada Sabtu (29/2/2020) sekitar pukul 08.30 Wita pagi. Pemicunya karena korban hendak membangunkan Bripka AS saat tidur untuk piket tugas.

“Padahal dia yang minta untuk dibangunkan, supaya bisa piket kerja. Pas dibangunkan, saya dipukul di bagian lengan,” ucap Siti.

Masih di tempat yang sama di Kelurahan Hunggaluwa, penganiayaan ketiga pun terjadi pada Selasa (14/4/2020) pukul 08.15 Wita pagi. Menurut korban, penganiayaan ketiga ini adalah yang paling parah.

“Ini paling parah, saya ditonjok menggunakan handphone di bagian kepala, ditendang di bagian perut, paha, dan lengan hingga badan memar,” ungkap korban.

Untuk melengkapi laporannya, korban pun mengaku telah menyertakan bukti dan melaporkan peristiwa itu ke Satresrkim dan Propam Polres Gorontalo pada Selasa (14/4/2020). Namun, laporan di Satreskrim ditarik pada Jumat (5/6/2020) dengan kesepakatan bahwa terlapor tidak akan mengulangi perbuatan dan segera menikahi korban.

“Apa yang dijanjikan tidak sesuai kenyataan, dari awal saya sudah curiga. Saya ingin dia bisa segera diproses dan mendapatkan hukuman setimpal,” tegas Siti.

“Saya pun sudah menyiapkan pengacara untuk mengawal kasus ini,” ujar dia.

Kasatreskrim Polres Gorontalo, Iptu Moh Nauval Seno, saat dikonfirmasi membenarkan laporan Siti Hardianti.

“Laporan polisi pernah masuk, bahkan sudah dalam proses. Tapi laporan telah ditarik oleh pelapor dan telah dikeluarkan surat pemberhentian penyelidikan,” ungkap Iptu Moh Nauval.

Berdasarkan proses penyelidikan sebelumnya, kata Nauval, korban pernah menyampaikan kepada penyidik telah melakukan aborsi setelah laporan dugaan penganiayaan dicabut.

“Alasan korban melakukan hal tersebut semata-mata untuk memenuhi janji terlapor agar dapat dinikahi,” imbuh Iptu Moh Nauval.

  1. Dilain waktu, Kasie Propam Polres Gorontalo, Iptu Yosis Ruung, menyampaikan, saat ini laporan korban sementara dalam proses pemeriksaan saksi-saksi.

“Sekarang sudah dalam tahap pemeriksaan saksi-saksi, setelah itu berlanjut ke pemeriksaan (Bripka AS) selaku terduga pelanggar,” pungkasnya.**

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here