Nani Wartabone Sang Pemimpin Bumi Hulondalo

53

Oleh Susanti Botutihe

(Mahasiswa Fakultas Hukum, Universitas Negeri Gorontalo)

Sebagaimana kita ketahui bahwa kepemimpinan adalah seorang yang mengepalai suatu kelompok atau unit untuk memimpin kelompok dimana untuk mencapai tujuan.

Berhubung memperingati Hari Pahlawan sudah dekat tepatnya pada tanggal 10 November 2020, di tengah pandemi hal ini tidak akan melunturkan semangat Rakyat Gorontalo memperingati hari pahlawan tentunya dengan mematuhi Protokol kesehatan.

Saya sebagai penulis pun ikut serta memperingati hari pahlawan dengan tulisan artikel saya memperkenalkan Pak Nani Wartabone sebagai Pemimpin Hulondalo.

Biografi Nani Wartabone

Nani Wartabone lahir di Gorontalo pada 30 Januari 1907, dan tumbuh dalam lingkungan keluarga yang cukup berada. Ayahnya adalah Zakaria Wartabone yang bekerja untuk pemerintah Belanda, sementara ibunya adalah seorang keturunan bangsawan di daerahnya.

Meskipun ayahnya bekerja untuk pemerintah Belanda, sejak kecil Nani memiliki sentimen yang buruk kepada pemerintah kolonial.

Ia pernah membebaskan tahanan orang tuanya, sebab ia tak sampai hati melihat rakyat kecil dihukum. Bahkan, ia tak betah bersekolah karena pengajar – pengajarnya yang berkebangsaan Belanda tersebut sering merendahkan bangsa Indonesia. Diam – diam, Nani menanam sikap antipati terhadap penjajah.

Perjuangannya dalam merebut kemerdekaan Indonesia dimulai ketika ia terlibat dalam pendirian organisasi kepemudaan Jong Gorontalo pada tahun 1923 di Surabaya. Nani terlibat dalam kepengurusan dan menduduki posisi sekretaris di Jong Gorontalo. Di Gorontalo, ia bersama rakyat berjuang melawan tentara Belanda, bergerak sekuat tenaga untuk mengusir kaum penjajah.

Puncaknya adalah ketika mereka berhasil menangkap Kepala Jawatan Tentara Belanda di Gorontalo pada saat itu. Lewat kejadian itu, bumi Gorontalo kemudian terbebas dari pendudukan Belanda.

Selesai dari penangkapan Kepala Jawatan Tentara Belanda tersebut, Nani Wartabone memimpin upacara pengibaran Bendera Merah Putih yang diiringi oleh nyanyian Indonesia Raya. Pernyataan kemerdekaan berlangsung di bumi Gorontalo.

Ternyata perjuangan belum selesai, sebab setelah itu datanglah pasukan tentara Jepang yang kemudian melarang berkibarnya bendera Indonesia di Gorontalo pada 6 Juni 1942. Nani tidak tinggal diam. Ia memimpin pergerakan melawan penjajahan Jepang. Sayang, pada 30 Desember 1943 ia ditangkap dan diasingkan ke Manado.

Nani baru dilepaskan oleh tentara Jepang pada 6 Juni 1945, setelah Jepang mencium tanda – tanda kekalahan mereka dari Sekutu. Setelah pembebasannya, pihak Jepang masih mengagumi dan mengakuinya sebagai pemimpin masyarakat Gorontalo.

Hal itu ditunjukkan dengan penyerahan pemerintahan Gorontalo dari pemerintah Jepang kepada Nani Wartabone pada 16 Agustus 1945, satu hari sebelum proklamasi kemerdekaan secara nasional. Sejak saat itu, merah putih berkibar kembali di tanah Gorontalo.

Berkat jasanya besarnya, sosok Nani Wartabone memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat Gorontalo dan Sulawesi.

Tidak hanya dibangun tugu di kota Gorontalo untuk mengenangnya, namun sebuah taman nasional menggunakan namanya sebagai bentuk penghormatan akan beliau, yaitu Taman Nasional Bogani Nani Wartabone yang berada di Sulawesi Utara.

Peran dan jasanya dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak hanya menjadi kebanggaan Gorontalo dan Sulawesi Utara saja, namun menjadi kesan tersendiri bagi bangsa Indonesia pada umumnya. Keberaniannya menentang dan menumpas kaum penjajah di tanah Gorontalo, dan akhirnya memproklamirkan kemerdekaan Indonesia di tanah tersebut menjadi catatan sejarah tersendiri yang patut kita hargai.

Sebagai anak muda, kita harus mempertahankan kemerdekaan Indonesia dengan belajar sungguh-sungguh, berusaha untuk tidak melakukan kejahatan, dan turut serta untuk mencerdaskan bangsa dan negara.

*Penulis Merupakan Mahasiswa Hukum, Universitas Negeri Gorontalo*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here