Menutup Kegiatan PHP2D, WR III: Difabel Harus Di Lindungi Hukum Agar Tidak Di Diskriminasi

24
Wakil Rektor III, UNG, Karmila Machmud sasat menutup acara PHP2D (Foto: Bayu Harundja)

KABGOR, MEDGO.ID – Dalam rangka menutup kegiatan Program Holistik Pembinaan dan Pemberdayaan Desa (PHP2D), Wakil Rektor III, Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Karmila Machmud, resmi menutup kegiatan yang di selenggarakan oleh Mahasiswa Fakultas Hukum, UNG. Sabtu, (28/11/2020).

Program yang di jalankan di Desa Pilohayanga, Kecamatan Telaga, Kabupaten Gorontalo yang mengangkat tema pemberdayaan kaum difabel, mendapat perhatian serius dari Wakil Rektor III UNG.

Dalam kesempatan wawancara, Wakil Rektor III UNG, Karmila Machmud menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan langkah awal pembentukan payung hukum kepada kaum difabel agar mereka tidak di diskriminasi.

BACA JUGA  Rektor UNG Terpilih Menjadi Wakil Ketua II PBSI

“Kita harus memberikan rekognisi (pengakuan) yang lebih terhadap teman-teman difabel, mereka itu harus di lindungi oleh hukum, diatur oleh hukum agar nanti mereka tidak di diskriminasi”, ujar Karmila.

Karmila juga menyampaikan bahwa kaum difabel harus memiliki hak yang sama dalam mendapatkan pendidikan hingga pekerjaan agar apa yang mereka lakukan adalah titik balik agar mereka mendapat perhatian pemerintah.

BACA JUGA  Mengenai Tuntutan Aksi Mahasiswa, Rektor UNG Himbau Mahasiswa Berbicara Dengan Data

“Mereka juga harus memiliki hak yang sama dalam mendapatkan pendidikan dan pekerjaan, sehingga apa yang mereka lakukan saat ini itu sangat penting, sebagai titik balik supaya pemerintah kita lebih memperhatikan teman-teman difabel ini”, lanjut Karmila.

Dan terakhir Karmila mengharapkan kegiatan ini agar dapat berlanjut dan jangan berhenti sampai disini, dan apa yang mereka lakukan melalui program ini terus di manfaatkan.

BACA JUGA  Relawan Covid Warkop Amal Salurkan 1514 Paket, Terobos RS Aloei Saboe dan Multazam, saat 10 Hari Masa PSBB Gorontalo

“Saya harap kegiatan yang mereka laksanakan saat ini terus berlanjut, jangan berhenti sampai disini, dan bisa juga menjadi suatu wake up call (bangun dari tidur) buat pemerintah kita bahwa kita mulai dari sini jadikan itu contoh, supaya mereka bisa memikirkan sesuatu yang lebih baik lagi untuk teman-teman difabel agar mereka tidak di diskriminasi”, harap Karmila. (Ubay)

Reporter: Bayu Harundja

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here