Meningkatkan Kesadaran Politik Dan Menolak Money Politik Untuk Pemilih Pemula

44

Oleh: Oktapia Jasman

Dalam kompetisi politik yang sangat ketat uang hanya berperan sebatas instrument, peran penting uang yaitu bagaimana cara untuk menggunakan uang tersebut untuk memperoleh simpati dari masyarakat guna meraih kekuasaan politik.

Politik uang secara luas digunakan untuk menggabarkan praktik-praktik, seperti: para kandidat telah memberikan uang kepada pemilih dan memeberikan barang serta menyuap pejabat penyelenggara peilihan umum. Money politik sendiri sudah ada sejak demokrasi di Indonesia pada kahir tahun 1990-an, sehingga kata money politik sudah tidak asing lagi masyarakat di Indonesia.

Pemilih pemula merupakan kategori orang yang baru akan menggunakan hak pilihnya dalam pemilihan umum sebab mereka baru saja menginjak umur yang merupakan syarat seseorang dapat mengikuti pemilihan umum.

Sebenarnya di Indonesia TNI/polri yang baru pensiun dan baru mendapatkan hak pilihya sebagai warga negara juga dikategorikan sebagai pemilih pemula, namun hal itu sangatlah terbatas dan tidak mencaku sebagai pemilih pemula sebab pada umumnya pemilih pemula yaitu para pelajar, mahasiswa semester awal dan kelompok pemuda lainnya yang baru saja memenuhi syarat sebagai peserta pemilihdi pemilhan umum nanti. Pemisahan keleompok pemilih pemula tersebut memiliki alasan tersendiri.

Pemilih pemula memiliki karakteristik yang berbeda dengan pemilih pada umumnya. Pemilih pemula memiliki ciri khas seperti kritis, ingin mencoba hal-hal baru, independen, setuju dengan adanya perubahan serta ciri-ciri lainnya yang tidak terdapat pada orang dewasa.

BACA JUGA  Kedunguan Melanda,  Dalam Lingkar Kekuasaan

Ciri-ciri tersebut mampu unutk membangun komunitas generasi pemilih yang cerdas. Akan tetapi karena belum adanya pengelaman terhadap pemiliahan maka pemiloh pemula harus mengatahui dan memahami berbagai hal yang terkait dengan pemilihan umum yang akan mereka laksanakan nanti.

Terdapat hal menarik dalam pelaksanaan demokrasi pada tahun ini. Dimana kita akan melaksanakan pemilihan gubernur dibeberapa provinsi di Indonesia yang akan di lakasanakan pada tanggal 9 Desember 2020 untuk pertama kalinya dalam susasan pandemi Covid-19.

Pelaksanan pemilu kali ini tidak bisa dilakukan sosisalisasi seperti sebelumnya, menginggat pandemi masih belum berakhir. Karena tidak adanya sosialisasi di hawatirkan pemili pemula akan terjebak dalam politik uang, sedangkan masa depan daerah tergantung pilihan kita bersama.

Dalam hal ini pentingnya edukasi dari keluarga terdekat yang sebelumnya sudah mengikuti pemilu, menyebar brosur-brosur yang menarik di baca, serta mendirikan spanduk di beberapa tempat yang banyak di lewati masyarakat.

Dua kontestan pasangan calon gubernur dan wakil gubernur pada Pilgub Sulteng 2020, secara resmi daftar ke Komisi Pemilihan Umum atau KPU Sulteng. Dua kontestan Pilgub pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Sulteng, Rusdi Mastura-Ma’mun Amir dan Hidayat Lamakarate-Bartholomeus Tandigala dijadwalkan mendaftar di KPU Sulteng.

BACA JUGA  Peran Kepala Desa Untuk Menjalankan Fungsi Pemerintah Di Desa Taluduyunu Utara, Kecamatan Buntulia, Kabupaten Pohuwato

Namun belum ada terlihat pergerakan yang mengedukasi pemilih pemula untuk menghindari adanya kesalahan dalam pemilu terutama tentang buruknya money politik.

Dalam hal ini seharusnya para penyelanggara mensosialisasikan atau menyebar brosur yang menarik untuk dibaca tentang buruknya money politik.

Bahaya money politik terhadap masyarakat , hal ini karena memang uang merupakan alat yang sangat signifikan untuk menguasai energidan sumber daya.

Maka sejak awal memiliki karismatik tersediri politik uang sangat berbahaya bagi masyarakat yang sudah mengetahui politik uang tapi mereka tetap melakukanya karena politik uang bisa memberi rejeki buat mereka yang mengerti bahaya tapi tetep melakukanya money politik salah satu musuh utam dalam setiap penyelenggaraan pesta demokrasih baik di daerah mau pun pedesaan politik uang dimaksud sebagai praktek pembelian suara pemilih oleh peserta pemilu, maupun tim sukses, baik yang resmi atau pun tidak, biasanya sebelum pemungutan suara dilakukan.

Politik uang adalah tindakan yang di lakukan oleh caleg dengan sengajah, modus yang biasanya dengan memberi atau pun menjajikan uang kepada seseorang agar masyarakat yang di suapa tidak menggunakan hak pilihnya untuk memilih calon tertentu,atau dengan sengajah menerima atau memberi dana kampanye dari atau kepada pihak-pihak tertentu.

BACA JUGA  4 Pelanggar Protkes Di Tindak Aparat Gabungan Di Limboto

Para kandidat yang pernah mencalonkan diri pada pemilu sebelumnya tentu lebih ahli dalam politik uang dan dipastikan akan mengulang hal yang sama, alasan lainnya adalah ketodak percayaan masyarakat terhadap kandidat pemimpin, masalah tersebut meberikan efek negative bagi para elit dengan menghambur-hamburkan uang dalam waktu sekejap, demi kekuasaan semata, begitu pun sebaliknya sangan menggiurkan bagi masyarakat meskipun sesaat, karena dengan pemberian uang dari para kandidat sangat berhutang budi kaepada kandidat tersebut yang memberikan uang tersebut biasanya peserta pemilu yang tidak memiliki kedekatan emosional dengan masyarakat akan membuat program yang di dalamnya terindikasih politik uang.

Sesungguhnya politik uang sangat merendahkan masyarakat para calon atau partai tertentu yang menggunakan politik uang untuk menentukan siapa yang harus dipilih dalam pemilu telah secara nyata merendahkan martabat rakyat, suara dan martabat rakyat dinilai tidak sebanding dengan apa yang akan didapat selama 5 tahun.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here