Opini  

Konflik Palestina-Israel, Dimana Posisi Pemuda Muslim?

0leh: Ayulinda Djufri

Baru baru ini kembali terjadi kematian salah seorang jurnalis atau wartawati kondang berdarah Palestina-Amerika yakni Shireen Abu Aqla yang tewas ditembak saat meliput serangan Israel di kawasan pendudukan tepi barat hari rabu pagi 11/5 2022. Al-Jazeera yang berbasisi di Qatar mengatakan dalam sebuah pernyataan pers bahwa jurnalis itu dibunuh dengan sengaja dan dengan darah dingin oleh pasukan Israel.

Jaringan media itu juga mengutip, bahwa saksi mata yang mengatakan  penembak jitu sengaja menembak Shireen di kepala meskipun perempuan itu mengenakan rompi dan helm yang jelas bertuliskan pers namun kemudian segera disemayamkan di kompleks kantor Presiden Palestina sebelum dibawa ke Yerussalem untuk dimakamkan (Detik News, 12/5/2022).
Tak tanggung-tanggung lebih dari 70 warga Palestina terluka dalam bentrokan dengan pasukan Israel di sebuah acara pemakaman di Yerussalem saat itu. Dan dari kantor berita AFP, selasa (17/5/2022), kerusuhan itu terjadi ketika warga palestina menguburkan Walid al-Sharif (23) yang meninggal pada hari sabtu karena luka-luka yang diderita selama bentrokan bulan lalu di kompleks masjid al-Aqsa di Yerusalem.

Bulan Sabit Merah Palestina mengatakan puluhan warga terluka saat bentrokan dengan pendudukan, dengan polisi Israel menembakan peluru karet dan granat kejut di kota tua, Yerusalem Timur dan sekitarnya. Polisi Israel mengatakan gangguan kekerasan terjadi baik selama dan setelah pemakaman, termasuk di pemakaman itu sendiri. Enam petugas terluka. Mereka melemparkan batu, botol, batu bata dan benda-benda berat lainnya, serta melemparkan kembang api ke pasukan.

BACA JUGA  Pelayanan Aparatur Pemerintah Desa Taluduyunu Utara, Kecamatan Buntulia, Kabupaten Pohuwato

Kelompok advokasi klub tahanan Palestina mengatakan lebih dari 50 orang ditangkap dalam insiden itu. Bentrokan ini terjadi beberapa hari setelah serangan polisi pada prosesi pemakaman jurnalis veteran al-Jazeera, Shireen Abu Akleh yang ditembak mati dalam serangan Israel di Tepi Barat. Warga Palestina dan al-Jazeera menyebut pasukan Israel membunuhnya, sementara Israel mengatakan tembakan warga Palestina mungkin yang harus disalahkan atas kematian jurnalis tersebut (detik.com 17/5/2022).

Dimanakah Tempat Berlindung?

Melihat peristiwa ini kembali terjadi tahun demi tahun tanpa perubahan sedikitpun dari kondisi palestina itu sendiri, tak jua dari negeri-negeri muslim mengambil tindakan serius untuk menghentikan tindak kejahatan ini, wajar episode ini akan terus berlanjut. Menolak lupa dengan kejadian kemarin yang bahkan saat beribadah pun warga Palestina mendapati berbagai penyerangan di masjid al-Aqsa dan beberapa perlakuan yang tidak seharusnya, penderitaan yang tak kunjung habis, pembantaian, pengusiran, bahkan penistaan masih sering dirasakan oleh rakyat pelestina, maka dimanakah tempat berlindung sebenarnya? Kalaulah PBB (perserikatan bangsa-bangsa) yang seharusnya turut andil dalam menyikapi persoalan ini, namun terlihat cacat saat dihadapkan dengan persoalan dunia Islam, sungguh menyayat hati ketika peristiwa Palestina yang sering diberitakan media nasional maupun internasional terasa biasa dikalangan masyarakat, seolah ini bukan persoalan besar yang harus diatasi, padahal bagian dari kejahatan perang dunia Islam.

Dari sini sangat terlihat bahwa dunia yang disetir oleh kapitalisme saat ini tidak memiliki keinginan menyelesaikan masalah Palestina, bahkan ketika mereka menawarkan solusi. Terbukti dengan berlanjutnya persoalan di Palestina, solusinya sama sekali tidak mampu memutus akar permasalahan yang ada. Inilah potret ketika dunia jauh dari aturan Islam sehingga kesadaran di tengah mayarakat mulai pudar bahwa semua muslim harus bertindak tegas dan punya kontribusi besar untuk menghentikan persoalan saudaranya, yakni Palestina yang statusnya sebagai jantung Islam di Timur Tengah.

BACA JUGA  Menanti Terdakwa ‘Lain’ Kasus Dugaan Korupsi GORR

Solusi Yang Menjamin

Ketika muncul pertanyaan, mengapa kita harus ikut campur dengan konflik Palestina-Israel? Maka perlu diketahui bahwa Palestina merupakan jantungnya Islam yang merupakan bagian wilayah Islam, bahkan kaum muslim terikat dengan Palestina-Yerusalem. Sebab wilayah Yerusalem menjadi bagian dari negeri-negeri Islam dengan status sebagai tanah kharaj, sejak era kekhilafahan Umar bin Khatab pada tahun 637 masehi. Setelah peperangan yang berkecamuk selama berbulan-bulan akhirnya uskup Yerusalem, Sophronius menyerahkan kunci kota Yerusalem pada khalifah Umar bin Khatab secara langsung. Karena statusnya sebagai tanah kharaj Palestina tidak boleh dimiliki oleh siapapun termasuk kaum muslimi sendiri akan tetapi boleh dimanfaatkan. Maka jika kaum muslim saja tidak berhak memiliki tanah tersebut apalagi kaum zionis Yahudi.

Bahkan kaum muslim terikat dengan kaum Nasrani-Yerusalem untuk melindungi negeri tersebut lewat perjanjian Umariyyah, dan dalam perjanjian tersebut Negara Islam berkewajiban memberikan jaminan kepada kaum Nasrani baik terkait harta, jiwa, dan ibadah mereka. Negara Islam juga diminta untuk tidak mengizinkan orang-orang Yahudi tinggal bersama kaum Nasrani dan kaum muslim di Yerusalem, bahkan khalifah Umar bin Khatab kemudian menjamin tidak ada satupun orang Yahudi yang lewat dan bermalam di wilayah tersebut. Perjanjian khalifah Umar bin Khatab dan kaum Nasrani-Yerusalem ini mengikat kaum muslim hari ini bahkan hingga akhir zaman. Karena itu selain berkewajiban merebut kembali tanah Palestina dari cengkraman zionis Israel ada kewajiban untuk menepati perjanjian yang dibuat oleh khalifah Umar bin Khatab untuk menjaga dan melindungi kaum Nasrani dan peribadatan mereka serta tidak mengizinkan seorang Yahudi lewat dan bermalam disana.

BACA JUGA  Peran Demerintah Desa Mototoluhu Dalam Meningkatkan Partisipasi Politik Ditengah Pandemi Covid-19

Hanya aja untuk membebaskan tanah yang mulia ini tentu membutuhkan kekuatan militer yang hebat yang mampu mengalahkan tentara Israel dan sekutunya. Kekuatan militer itupun harus datang dari luar Palestina, akan tetapi berharap pada negeri muslim saat ini ibarat menggantungkan harapan kosong, dan satu-satunya negara yang mampu menghadirkan kekuatan militer adalah negara yang memiliki ikatan akidah Islam yang akan mempertemukan cita-cita kaum muslimin di Palestina dan menumbuhkan semangat jihad tentara kaum muslimin dalam satu perjuangan mulia membebaskan tanah yang mulia ini dari penjajahan barat.

Semua ini membutuhkan peran pemuda, kesadaran untuk menghalangi penderitaan yang dirasakan muslim lainnya. Sebagaimana rasulullah bersabda, “ perumpamaan orang-orang yang beriman dan saling mencintai, menyayangi, mengasihi, layaknya satu tubuh, bila ada salah satu anggota tubuh yang sakit maka anggota yang lainnya ikut merasakannya, yaitu tidak bisa tidur dan merasa demam”(H.R Bukhari dan Muslim). Maka olehnya pemuda hari ini haruslah bersatu mengembalikan kejayaan muslim lainnya dengan menghadirkan solusi Islam dalam naungan sistem yang sohih yang Allah swt ridhai.[]

*)Penulis adalah Sarjana Manajemen Dakwah IAIN Gorontalo