banner 728x250

Kembali Peringatan “MAY DAY” Oligarki Masih Berkuasa Tak Lebih Seperti di Gorontalo

  • Bagikan
banner 468x60

Sejarah peringatan hari buruh se-Dunia khusunya di negara Indonesia, pertama kali di laksanakan bertempat di Surabaya saat itu Indonesia masih bernama Hindia-Belanda di tandai dengan adanya aksi demonstrasi oleh orang Tionghoa, Kung Tang Hwee Koan.

Memang Dalam beberapa dekade, momentum hari buruh pada tanggal 1 Mei sering di peringati dengan aksi-aksi, baik aksi nasional maupun internasional, hal ini dilakukan oleh para buruh maupun elemen gerakan lainnya, sebagai langkah menuntut upah kerja yang layak dan jam kerja dalam sebuah perusahaan.

banner 336x280

Di Indonesia, pada masa rezim orde baru aksi ini mendapat larangan karena di anggap menggangu keamanan dalam negeri serta dapat merongrong kenyamanan penguasa dalam melakukan aktivitas pemerintahannya.

Nanti setelah rezim diktator militeristik ini runtuh, aksi memperingati hari buruh kembali rutin di lakukan bahkan sampai pada daerah-daerah terpencil tak lebih di Gorontalo, walaupun tidak begitu massif dan membesar seperti wilayah lain.

BACA JUGA  Seminggu Penertiban Covid-19 di Pasar Tradisional, Kota Gorontalo Sudah Ada Perubahan Signifikan

Aksi demonstrasi itu di lakukan, sebagai bentuk akumulasi kekecewaan kaum buruh dalam menghadapi situasi keterpurukan ekonomi, ditambah lagi kebijakan politik nasional yang saat ini lebih menghamba kepada pengusaha atau investor.

Sehingga arus perlawanan terus menerus di lakukan, demi sebuah perubahan nasib dan keadilan. Namun, gerakan ekstra parlemen tersebut mestinya sudah harus di barengi dengan gerakan intra parlemen misalnya mengitervensi pemilu.

Memang tidaklah mudah melakukan taktik politik ini, karena harus berhadapan dengan para politisi lainnya yang memiliki cos politik besar salah satu contoh kecilnya dalam momentum konstestasi pilkada di Gorontalo.

Gorontalo adalah daerah hasil pemekaran Propinsi Sulawesi Utara ini sudah beberapa kali melakukan pemilu atau Pilkada dengan melalui proses yang alot sampai adanya praktek transaksional.

BACA JUGA  Pemkot Gorontalo Resmi Buka Posko Untuk Pengaduan THR

Praktek menjijikan itu tak bisa kita pungkiri karena para elit yang bertarung memiliki basis kekayaan melimpah, dengan bermodalkan uang mampu membeli suara pemilih hingga memenangkan pertarungan untuk menduduki bangku kekuasaan.

Realitas politik itu, mengakibatkan ketimpangan dalam bidang ekonomi, terlihat jelas pada angka kemiskinan masyarakat Gorontalo masih berada di urutan ke-5 secara nasional dengan presentase 15,59 persen finance.detik.com.

Akan tetapi hal ini berbanding terbalik dengan data kekayaan Gubernur Gorontalo yang masuk dalam daftar orang nomor dua (2) Gubernur terkaya di Indonesia. Miris tentunya melihat presentase itu karena perbedaan orang kaya dengan orang miskin masih sangat jauh berbeda. Bisa kita simpulkan bahwa situasi saat ini dalam lingkar kekuasaan masih di dominasi oleh kaum oligarki atau system pemerintahan Plutokrasi.

BACA JUGA  Launching MPP, Ketua Dekab Bonebol Beri Apresiasi Kepada Pemda

Bertepatan momentum (MAYDAY) hari buruh Internasional kali ini, harus di jadikan oleh pemerintah sebagai refleksi dan evaluasi system pengelolaan pemerintahan terlebih dalam mengeluarkan produk kebijakan, agar betul-betul menyentuh akar persoalan masyarakat Gorontalo khususnya demi kesejahteraan kaum buruh dan penurunan angka kemiskinan. Kemudian, System ekonomi politik jangan lagi hanya berkutat pada kepentingan golongan tertentu akan tetapi mencakup semuanya.

Hingga nawacita perjuangan para pendiri bangsa dapat di implementasikan secara sungguh-sungguh yakni terciptanya masyarakat adil dan makmur.

Selamat Hari Buruh Sedunia (MAYDAY) 1 Mei 2021
Menangkan Pancasila.

Penulis Jubir PRIMA ; Ayub Tanjomada (Sekretaris Wilayah LMND Gorontalo)

banner 336x280
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *