banner 728x250

Kelompok Tani Desa Ibarat Tolak Bantuan Benih Jagung Dari Dinas Pertanian Gorut, Ini Penyebabnya

  • Bagikan
banner 468x60

Gorut MEDGO.ID – Sejumlah kelompok petani jagung yang ada di desa Ibarat, Kecamatan Anggrek, menolak keras bantuan dari Dinas Pertanian Kabupaten Gorontalo Utara.

Awalnya penyaluran benih jagung berjalan dengan lancar, tapi tiba-tiba salah satu ketua kelompok tani, terkejut saat mengetahui jumlah bantuan bibit jagung dikurangi dalam jumlah-

BACA JUGA  Indra Yasin Bersama Unsur Forkopimda Cek Kesiapan di Posko Perbatasan Gorontalo - Sulut

banner 336x280

tertentu oleh petugas dari Dinas Pertanian Gorut yang ikut mendampingi sekaligus menyerahkan bantuan bibit jagung kepada kelompok tani.

Hal tersebut mengundang reaksi keras dari beberapa anggota kelompok tani yang tergabung dalam Samigo, diketahui sudah lama terbentuk sejak tahun 90’an.

BACA JUGA  Camat Anggrek: Isilah Kemerdekaan Ini Dengan Hal-Hal Positif, Dan Semangat Membangun.

Pasalnya pengurangan jumlah bibit jagung kepada kelompok tani terjadi secara tiba-tiba, tanpa ada koordinasi dengan ketua kelompok ataupun anggota kelompok tani.

Mengetahui hal tersebut, anggota kelompok tani Kustiyanto Olii atau akrab di sapa Yanto, dirinya kapasitas sebagai anggota kelompok tani merasa kecewa atas pengurangan bantuan benih jagung.

BACA JUGA  Pemda Gorut  Siapkan Perda Untuk Pengelolaan Parawisata

Kepada awak media Yanto menjelaskan beberapa hal atau penyebab terjadinya penolakan benih jagung yang disalurkan kepada kelompok petani jagung. Senin,(26/7/2021)

BACA JUGA  Lebih dari 90 KPM, Pemdes Ibarat Salurkan Langsung BLT Kepada Masyarakat Yang Terdampak Covid-19

“Tujuan dari penolakan bibit jagung ini adalah munculnya kelompok yg baru tanpa diketahui oleh Pemerintah desa, sehingga terjadilah kecemburuan sosial kepada kelompok yang memang sudah lama, tetapi penyalurannya pada kelompok baru lebih banyak dari kelompok yang memang sudah lama terbentuk, ditambah lagi tidak ada pemberitahuan langsung kepada ketua kelompok atau pun anggota yang ada, itulah yang kami sesalkan” jelas Yanto.

BACA JUGA  Tinggalkan Kesan Pada Masyarakat Pilohayanga, Berikut Pesan Dari Kades Pilohayanga Untuk Mahasiswa Hukum UNG

Yanto menuturkan, sejarah terbentuknya kelompok tani ini memang sudah lama, sejak tahun 90’an, yang diberi nama Samigo, yaitu Sanger, Minahasa, Gorontalo.

Seiring dengan berjalannya waktu, maka kelompok tani Samigo, Samigo pun di katakannya sudah bubar, dan muncullah kelompok yang baru, yang tidak lain adalah mekaran dari Yanto.

BACA JUGA  Pemdes Langge Bagikan Sertifikat Tanah Secara Gratis Kepada 81 Masyarakat Desa

“Dalam hal ini, saya yang kemarin itu sebagai ketua kelompok, dan sekarang ini telah menjadi kepala desa tentunya sudah tidak wajar lagi, sehingga yang diangkat jadi ketua adalah Burhan Olii. nah Burhan Olii ini kan orang tua saya, ada hubungan emosional, walaupun orang tua saya tapi beliau adalah petani.

Kami sebagai anggota kelompok tani mengkhawatirkan akan terjadi kesalahpahaman, jangan sampai ada tingkat penyaluran nanti terjadi kecemburuan, kok yang lainnya sekian, masa sih kita hanya dapat segini. Padahal ini kenyataan, daripada menimbulkan masalah baru, dan ini akan menjadi fitnah bagi kami,-

BACA JUGA  Camat Kwandang Lakukan Kunjungan Di Tiga Desa, Disambut Secara Adat Mopotilolo

sehingga alangkah baiknya kita tolak dulu. Disini di salurkan ada 6 kelompok, yang jadi pertanyaannya kenapa tidak sama luasannya? siapa yang mengurangi, sedangkan pengurangan ini tidak ada kordinasi dengan ketua dan anggota kelompok tani. tegas Yanto

BACA JUGA  Usai Dilantik,  Rison Adolo Siap Action Untuk Pembangunan Desa Tolango

Yanto menambahkan, bahwa dengan tidak ada pemberitahuan kepada dirinya sebagai anggota kelompok tani sangat menyangkan hal tersebut terjadi. Sebab menurut Yanto, inilah yang menjadi pelecehan terhadap dirinya sebagai anggota, dan juga pada yang lainnya.

BACA JUGA  Malam Nuzul Quran 1442 H, Indra Yasin : Alquran Sebagai Petunjuk Umat Muslim

“Karena dalam aturan ini yang di bantu adalah lahan, bukan orangnya. Jadi siapapun dia, baik itu dia petani yang mempunyai lahan, itu bisa dibantu. Dengan adannya pengurangan seperti ini tentunya saya sebagai anggota kelompok tani dan ketua kelompok sangat kecewa.

BACA JUGA  Pemdes Tutuwoto Gelar Pengukuhan Tim Pokjanal Posyandu

Ditambah lagi perencanaan penyaluran kepada petani beberapa kali sempat gagal di desa kami. Kemarin petani sempat menunggu lama di kantor desa, dan baru hari ini tersalurkan, yang pada akhirnya bantuan bibit jagung ini kami tolak, dengan alasan luasan pertanian yang tidak sesuai.” tutur Yanto.

BACA JUGA  Antusias Masyarakat Desa Ibarat Berdatangan Mengikuti Gebyar Vaksin Massal

Saat ini Yanto memiliki lahan kurang lebih 10 hektar, meskipun memiliki lahan cukup luas, dirinya tetap mengandalkan modalnya sendiri untuk membeli bibit atau pun benih jagung.

“Dan buktinya bukan hanya beli di pasar, tapi beli di penyuluh kemarin juga saya sempat beli seharga 9 jutaan lebih, dan itu bukan dari pengadaan dari Pemerintah.” tandasnya

BACA JUGA  Pemdes Hiyalo Oyile Imbau Warga Benahi Lingkungan Dan Kibarkan Bendera Sambut HUT RI Ke 76

Terkait dengan penolakan benih jagung oleh para kelompok tani desa Ibarat, Arman Hasan yang juga sebagai penyuluh pertanian, membenarkan kejadian itu, sehingga sempat terjadi argumentasi antara petugas dari Dinas Pertanian Kabupaten Gorontalo Utara, dan kelompok tani.

BACA JUGA  Indra Yasin Lantik Kades Pengganti Antar Waktu (PAW) Desa Tolango

“Saya sebagai penyuluh yang ada di desa Ibarat, itu kalau memang pengurangan untuk luas lahan, dan itu wajar. Karena apa?, yang diberikan oleh Dinas Pertanian, itu bukan hanya 1 kelompok, bayangkan saja di Kecamatan Anggrek ini setiap desanya memilki kurang lebih 12 kelompok.

Ketika di kasih full atau pun diratakan 25 hektar per satu kelompok, maka tidak cukup. Di desa ibarat ini kurang lebih 15 kelompok, dan harus semua dapat. Nah, wajar saja ketika dikurangi untuk luasan lahan pertanian, karena apa? saya saja sebagai penyuluh dan anggota, luas lahan saya terkurang.

BACA JUGA  Pemdes Molsel Bersama BNN Gorut Gandeng Mahasiswa KKN Tematik UNG Perangi Narkoba

Saya hanya dapat 1 hektar, sedangkan luasan lahan saya kurang lebih lima hektar, harusnya saya tuntut, akan tetapi saya sadar, kenapa saya tidak egois, karena begitu banyak yang harus di bantu. Jadi nda apa-apa, kalau anggota kelompok tani menuntut, silahkan ke Dinas Pertanian.

BACA JUGA  Pemerintah Kecamatan Anggrek Gelar Rakor Evaluasi Penggunaan ADD 2021

Kalau pun pengurangan terjadi itu tidak ada dari dinas, cuman saya punya pengalaman, dan melihat karena kemarin itu terkurangnya benih yang harus di salurkan ke anggota kelompok tani, karena melihat kelompok tani atau petani yang ada di desa itu banyak, maka luasanya di kurangi, meskipun di kurangi tapi dapat semua. Apalagi kedepan nanti akan ada penambahan bibit nanti, makanya kita antisipasi.

BACA JUGA  Ini yang di Sampaikan DPMDes Gorut, Saat Kegiatan Penyuluhan Hukum, Desa Tolongio

Ketika ada yang belum tercover, maka berikutnya kita akan masukan ke dinas untuk memberikan lagi bantuan, supaya tidak ada lagi yang komplein dari para kelompok tani maupun Pemerintah desa. Nah jadi begitu, kalaupun anggota kelompok tani maupun kepala desa menuntut, nda apa-apa, bisa langsung ke dinas, karena saya punya pimpinan” pungkas Arman Hasan.

BACA JUGA  Tindaklanjuti Kasus Gigitan Anjing Gila, Distannak Bonebol Gerak Cepat Vaksinasi Rabies

Terkait dengan penolakan yang dilakukan oleh kelompok tani terhadap bantuan bibit jagung dari Pemerintah, dalam hal ini Dinas Pertanian Gorut, Kelompok tani desa Ibarat, diwaktu dekat ini akan melakukan rapat, dan akan menyurati dinas.

BACA JUGA  Pemdes Molsel Bersama BNN Gorut Gandeng Mahasiswa KKN Tematik UNG Perangi Narkoba

Menurut Yanto, dirinya sebagai anggota kelompok tani, di kelompok tani yang baru terbentuk itu lebih banyak benihnya dibandingkan dengan kelompok yang lama, sedangkan kelompok yang baru tersebut masih dipertanyakan pengukuhannya.

Sebab yang diharapkan oleh kelompok tani adalah sosialisasi dan keterbukaan dari dinas, atau penyuluh terkait, sehingga bisa di pahami oleh kelompok tani tersebut agar tidak menimbulkan kesalahpahaman. (Inong)

 

Reporter: Suripno Ar. Onge

banner 336x280
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *