Kedunguan Melanda,  Dalam Lingkar Kekuasaan

214

 

“Apabila usul ditolak tanpa ditimbang suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan dituduh subversif dan menggangu keamanan maka hanya ada satu kata : LAWAN!!”

 

Oleh : Mohamad Rifaldy S. Ibura*

Potongan puisi yang lahir dari seorang aktifis Hak Asasi Manusia di era orde baru tersebut sangat merangsang pergerakan para pemuda dan mahasiswa di era tersebut sehingga begitu bergairahnya mereka melawan orde yang karakteristik hukumnya menindas.

Berbeda halnya dengan pergerakan yang terjadi di bumi Hulondalo, lahirlah seorang pemuda yang konon katanya, ia adalah seorang Master Gerakan Mahasiswa, Sang Master dengan persepsi Hulodunya berkicau bak burung yang dilatih oleh majikannya untuk memenangkan sang majikan dalam sebuah perlombaan.

Dengan terjadinya suatu peristiwa yang dinamakan Episode Twibbon oleh Sang Master hal ini tentu mengguncang lingkaran kekuasaan termasuk para “kacung” yang sejatinya perilakunya menggongong para lawan majikan bahkan menggigitnya hingga menyebabkan lawan cedera.

Sama halnya dengan sang master saya pun tidak tau entah apa yang merasukinya, sehingga, saat ini ia  mirip dengan seseorang tokoh istana yang bersorban. Menampilkan kelucuan nya dalam berfikir , cukup menghibur saya hingga tidak dapat mengontrol diri, teringat akan masa kecil ketika saya begitu terhibur oleh seorang badut.

Pikiran lucu nya  yang menginterpretasikan pergerakan kami, di anggap  tidak berada dalam barisan rakyat kecil,  sungguh merupakan aliran dunguisme yang perlu dibasmi keberadaanya dalam era reformasi. Namun hal ini patut untuk dimaklumi karena saya memahami,  saat   kedekatan seseorang dengan lingkar kekuasaan cenderung membuat pikiran nya,  sangat materialis.

Ketika berproses dalam suatu pergerakan perlu adanya rasionalitas dan pertimbangan jernih dalam bergerak, dalam hal ini tentunya didukung oleh beberapa fakta dilapangan yang tidak diketahui oleh sang master. Ya sang master mungkin menutup matanya dengan sengaja akan fakta-fakta yang saya temukan dilapangan dikarenakan kenyang akan jatah dari sang majikan.

Saran saya kepada sang master,  untuk sesekali  keluar dari rumah majikan,  dengan menggunakan indra penciuman dalam mengungkap fakta yang ada dilapangan.

Sang master keliru dalam menafsirkan arti beasiswa, sang master mungkin lupa kata lain dari beasiswa adalah bantuan, sang master mungkin tidak mengerti cara untuk mengajukan beasiswa dengan alur birokrasi yang berbelit belit.

Sejatinya beasiswa merupakan bantuan untuk pelajar yang kurang mampu untuk menghidupi ruang akademiknya.  Ketika bantuan itu digeser dengan alasan  pandemi, lalu apa arti kebijakan pemerintah selama ini dalam mengatasi keadaan?  Bukankah itu justru menghilangkan hak mereka dalam menerima bantuan?  Kehilangan hak untuk menerima bantuan dalam situasi saat ini adalah bentuk kezaliman yang tidak bisa didiamkan.

Ketimbang bagi-bagi sembako yang tidak merata, hanya bersifat nepotisme, hal ini menyebabkan tidak tertatanya sistem dengan baik. Harusnya pemerintah berlaku adil, sebab dalam situasi pandemi ini kebijakan diberlakukan secara keseluruhan. Ketika ini tidak dilakukan secara prosedural, maka imbasnya pada kaum proletar (orang pinggiran/tak mampu).

Saya berfikirnya, ketika ini terus berjalan maka sistim pemerintahan bagaikan hukum rimba siapa yang kuat, dia yang akan bertahan. Ini yang tidak disadari oleh sang master, entahlah, mungkin  dia hanya sibuk dengan menghibur majikanya. Sehingga mencoba melucuti gerakan mahasiswa yang pada dasarnya melihat permasalahan pemerintah anti kritik di bumi hulondalo.

Mengatasnamakan mahasiswa, tanpa sadar akan jati diri sebagai mahasiswa. Saya mengibaratkan sang master seperti serigala berbulu domba.

Sang master terlalu banyak memberi kuliah daring mengenai sejarah pergerakan mahasiswa,  hingga melupakan esensi dari kedudukan mahasiswa itu sendiri. Sejatinya mahasiswa adalah oposisi dari pemerintah dan rakyat adalah hakim bagi pemerintahannya sendiri. Ketimbang “jijik” saya lebih merasa najis Ketika melihat mahasiswa yang masuk dalam lingkar kekuasaan.

Apakah sang master posisinya terancam akan kritikan yang kami berikan kepada penguasa? Romantisme itu berat,  biar kamu saja, iya kamu dan majikanmu.

Apakah sang master tau akan keadaan rezim sekarang ini?
Apakah sang master paham akan kebijakan yang diberlakukan saat ini?
Katakan pada majikanmu sesungguhnya rezim yang dzolim tidak akan bertahan di bumi Hulondalo, karena masih ada mahasiswa yang waras dan tidak takut akan rezim anti kritik.

Tunduk tertindas bangkit melawan, sebab koprolisasi adalah bentuk kedunguan.

Bongkar Rezim dzolim dan antek-anteknya.!!

*) Presiden BEM UNG

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here