Intimidasi Wartawan Terjadi Saat Meliput Aksi Tolak Omnibus Law Di Gorontalo

41
Aksi tolak omnibus law yang berakhir ricuh di simpang lima Telaga (Foto: Istimewa)

KOTA GORONTALO, MEDGO.ID – Aksi tolak omnibus law yang berlangsung di simpang lima Telaga, Kota Gorontalo berakhir ricuh dan di warnai tindakan intimidasi dari oknum aparat kepolisian kepada wartawan yang sedang meliput, pada Senin (12/10/2020).

Melansir dari Read.id, Salah satu wartawan dari media online Liputan 6, Arfandi Ibrahim mengaku, dirinya dilarang mengambil gambar maupun merekam video aksi penangkapan dan pemukulan yang dilakukan polisi terhadap sejumlah massa aksi.

“Saya diminta suruh hapus, polisi yang berseragam lengkap itu bilang hapus, hapus itu gambar. Katanya kami wartawan memberitakan secara tidak berimbang. Karena oknum itu terus memaksa, maka gambar terpaksa saya hapus,” ujar Arfandi.

Perlakuan yang sama juga dialami Agung dari media online Kronologi.id. Ia mengaku mendapat intimidasi saat mengambil gambar seorang mahasiswa yang terluka dan berdarah akibat diduga dipukul polisi.

“Saya sudah mengatakan ke polisi, saya ini wartawan, kenapa disuruh hapus. Namun, oknum polisi itu tetap bersikeras untuk segera menghapus gambar yang ada didalam kamera saya. Ada sejumlah foto yang sempat saya hapus,” ungkap Agung (dilansir dari Read.id, Senin, 12/10/2020).

Selain itu salah dua orang wartawan yaitu Hamdi dari Kronologi.id dan Nikhen Mokoginta editor dari 60dtk.com ditangkap dan di bawa ke Polda Gorontalo.

Berdasarkan informasi yang di dapatkan Medgo.id, Hamdi yang merupakan wartawan media online Kronologi.id, ditangkap saat meliput aksi yang berujung bentrok fisik yang melibatkan mahasiswa dan oknum polisi.

Dan juga Nikhen Mokoginta yang merupakan editor dari media online 60dtk.com di tangkap bersama unsur Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Dan juga salah satu wartawan dari Medgo.id, Bayu Harundja sempat hampir di tahan oleh salah satu oknum intel yang tidak di ketahui identitasnya, selepas pulang dari meliput di Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo.

Bayu yang sempat lewat di area perlimaan dan menuju jalan Agus Salim dengan keadaan yang sudah aman sekitar pukul 16:45, tiba-tiba di tahan salah satu oknum intel dan hampir di bawa dengan alasan yang tidak jelas.

Hingga berita ini di lansir, Bayu tidak jadi ditahan oleh salah satu oknum intel yang menahannya. Namun, oknum intel yang menahannya sempat mengirimkan sebuah video dan foto terkait pemukulan mahasiswa oleh oknum polisi di lokasi kejadian.

Mengenai hal itu melansir dari Read.id, Kabid Humas Polda Gorontalo, Kombes Pol Wahyu Tri Cahyono saat dikonfirmasi mengatakan, tidak ada niat Polri untuk mengintimidasi para wartawan.

Apabila ada intimidasi maupun ada penangkapan terhadap wartawan, pihaknya masih akan mencari tahu apa benar informasinya seperti itu.

“Kami meminta maaf kepada teman-teman media. Yang jelas tindakan Polri dalam aksi ini sudah sesuai SOP untuk melakukan tindakan tegas dan terukur. Untuk wartawan yang ditangkap, kami masih cek apakah dia terlibat langsung atau ada kesalahpahaman di lapangan karena salah sasaran,” jelas Wahyu (dilansir dari read.id, Senin, 12/10/2020). (Ubay)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here