#IndonesiaTerserah, Problematika Kesadaran Masyarakat dan Nurani DPR Yang Hilang.

81

“Duniaku bukan jabatan, pangkat, gaji dan kecurangan. Duniaku bumi manusia dengan persoalannya”.

Oleh : Bayu Harundja *

Sebuah kutipan dari seorang tokoh fiksi favorit saya bernama Minke di dalam buku bumi manusia karya Pram yang menjadi pembuka dalam tulisan ini.
Akhir-akhir ini disaat negeri kita sedang genting dengan pandemi covid-19, tagar #IndonesiaTerserah  menjadi trending topic dan pembicaraan hangat baik dimedia sosial maupun media berita.

Indonesia Terserah? Ada apa dengan kalimat ini? Kalimat yang menggambarkan kepasrahan seorang perawat yang berjuang di garis depan untuk keselamatan kita bersama. Kepasrahan tersebut dituliskan oleh seorang perawat dalam kertas yang mengutarakan kekecewaan mereka terhadap pemerintah dan rakyat Indonesia. Kekecewaan tersebut bukan tanpa sebab, kekecewaan itu timbul karena disaat para perawat berjuang di Rumah Sakit. Bandara, pusat perbelanjaan, pasar, bahkan tempat wisata masih saja ramai di datangi para warga yang kesadarannya menghilang. Bahkan pemerintah pun tidak memberi sanksi keras terhadap pelanggar PSBB atapun pelanggar yang berkeliaran di luar rumah. Hal inilah yang membuat kekecewaan para pejuang kemanusiaan karena tidak ada kesadaaran yang tertanam di dalam diri masyarakat.
Kejadian pada saat bandara Soekarno-Hatta ramai dengan warga yang mau mudik, mencerminkan bahwa nyawa seorang tenaga medis dan para perawat yang telah gugur telah sia-sia untuk berjuang menangani pandemi. Perlu kita sadari bahwa, perjuangan kita selaku warga negara yang baik adalah hanya berdiam diri dirumah dan mendoaakan mereka yang berjuang di garis depan. Apa salahnya.

Untuk tetap jaga jarak dirumah sampai pandemi selesai? Kita saat ini bukan berperang di medan tempur dengan mengangkat senjata, kita berjuang dengan hanya berdiam diri dirumah mengikuti himbauan pemerintah. Kesadaran-kesadaran kecil inilah yang selalu kita anggap remeh, kasus positif corona bukan berkurang tapi malah menjadi membludak dan bahkan Indonesia saat ini termasuk zona merah di kawasan Asia Tenggara.
Perlu kita sadari, negeri kita sedang tidak baik-baik saja. Setelah negeri kita bersedih dengan perlakuan para wakil rakyat dengan mengesahkan RUU Minerba dan tetap melanjutkan pembahasan RUU Bermasalah yang merugikan rakyat, negeri ini pun diberi ujian oleh tuhan dengan pandemi covid-19.

Kesadaran kita untuk tetap dirumah adalah kesadaran untuk keselamatan kita bersama. Para perawat dan tenaga medis yang berjuang di garis depan, mereka adalah pejuang yang sesungguhnya. Kita harus menghargai perjuangan mereka, karena mereka berjuang dengan merelakan nyawa dan bahkan rela tidak pulang kerumah untuk bertemu keluarga. Karna mereka sadar, negeri ini sedang tidak baik-baik saja. Negeri kita sedang bersedih, “Indonesia Terserah” adalah cerminan bahwa negeri kita adalah negeri yang tidak sadar akan rasa kemanusiaan.

Para rakyat yang berulah dengan meramaikan bandara dan pusat perbelanjaan dan juga para wakil rakyat yang di DPR berulah membahas RUU bermasalah ditengah pandemi. Inikah potret negeri kita? Negeri yang dikenal unik karena beragam budaya dan bahasanya? Teruntuk masyarakat, melalui tulisan ini perlu kita sadar bersama bahwa negeri ini butuh orang-orang yang bijak dalam berpikir serta bijak dalam bertindak. Mari kita tetap jaga kepercayaan para perawat agar mereka semangat berjuang dalam menangani pandemi ini. Dan teruntuk tuan dan puan yang di DPR, kita ketahui bersama para perawat dan tenaga medis sudah banyak yang gugur.

Apa masih ngotot membahas RUU yang bermasalah? Seharusnya anggaran yang digunakan untuk membahas RUU yang bermasalah, digeser untuk membantu para perawat untuk menanganai wabah covid-19. Kita perlu sadar diri bahwa kepentingan kita bersama adalah kepentingan negara. Indonesia Terserah adalah cerminan bangsa kita saat ini. Tetap berjuang para pejuang kemanusiaan. Tetap dirumah sampai pandemi selesai.

*) Mahasiswa UNG Fakuktas Hukum

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here